Sembahe adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Sibolangit, Kab. Deli Serdang Sumatera Utara.  Berjarak hanya 35 Km. Atau hanya 1 jam dari Kota Medan. Desa ini terletak kaki pegunungan bukit Barisan.  Alamnya hijau, udaranya sejuk dan sungainya yang jernih membuat orang-orang berbondong-bondong datang kemari. terdapat banyak pemandian alam dan training center yang menjadi nilai wisata bagi masyarakat sekitar. Disamping wisata alam yang memikat, didesa sembahe juga terdapat satu situs budaya dan sejarah yang berusia ratusan tahun.  Tidak jauh dari pemandian terdapat sebuah simpang kecil yang bernama durintani dengan pamplet persegi yang mengarah ke pelosok desa. Kabarnya, disana terdapat sebuah situs budaya goa kemang.

Sebuah tempat yang kabarnya menjadi asal muasal nama dari desa ini. Dari fisiologinya batu ini sudah berusia ratusan tahun atau lebih. Ada sebuah legenda menarik dari keberadaan batu ini. Masyarakat mengaitkan batu ini dengan sebuah kisah antara bolang dan umang (bunian). Dahulu kala terdapat seorang petani yang ingin membuka ladang di Kampung Uruk Rambutan, tanah Karo. Pria ini disebut dengan Bolang yang berarti kakek dalam bahasa Karo. Bolang tersebut ingin membuka ladang untuk ditanam disekitar kampung uruk rambutan (sekarang sembahe). Namun ditengah perjalanan betapa terkejutnya umang tersebut ketika melihat makhluk kecil dengan tumit terbalik melintas disekitar tempat yang akan dijadikan ladang. Jalan Bolang tersebut bertemu dengan Umang  (dalam bahasa karo jin, roh jahat, hantu sering disebut dengan umang). Bentuknya kecil dengan tumit terbalik dengan kaki yang menghadap kebelakang.

Umang ini bersedia  membantu bolang tersebut untuk membuka, membersikan dan menanami lahan. Umang menaruh kesepakatan kepada Bolang agar tidak memberi tahu orang lain tentang hal ini. Bolang juga dilarang membawa perempuan dan anak kecil kemari.  Bolang menyetujui kesepakatan ini, diapun meminta bantuan umang untuk menggarap lahan yang masih semak belukar.  Ladang ini tidak mampu dibersihkan dalam satu hari, namun umang ini mampu melakukannya. Bolang ini kembali kerumah dan menceritakan bahwa ladang telah dibersihkan dan digarap. Istri yang merasa heran, mulai menaruh curiga kepada Bolang. Keesokannya secara diam-diam sang istri mengikuti Bolang ke ladang Betapa terkejutnya sang istri saat melihat ladang yang berisi makhluk-makhluk kecil menggarap lahan. Sang umang mengetahui keberadaan istri bolang tersebut dan menanggap perjanjian dengan bolang batal.

Lahan yang sudah digarap kembali seperti semula. Bolang  yang mengetahui ini marah besar kepada istrinya, dan keesokan harinya bolang kembali kehutan untuk menemui. Namun Bolang hanya menemukan satu bongkahan batu besar dengan lubang 50×50 ditengahnya. Batu ini dipercaya sebagai tempat tinggal umang dan diberi nama dengan Goa Kemang. Dan ditemukan masyarakat pada zaman penjajahan Belanda. Banyak orang yang berusaha memindahkan batu ini termasuk koloni Belanda itu sendiri. Namun tidak ada satupun yang mampu mengangkatnya. Orang – orang primitif sekitar kampung kemudian menyembah batu ini , mengantar sesajen juga memohon permintaan di Batu Ini, sejak saat itulah desa ini di juluki dengan desa Sembahe yang dalam bahasa Karo berarti sembahlah itu.

Bentuk gua kemang ini memang unik. Batu ini mengerecut seperti segitiga, kemudian ditengahnya terdapat lubang berukuran 60×60 cm. Dari sini kita bisa melihat isi dalam gua, terdapat lantai seperti ruangan istirahat yang dibuat oleh manusia. dibagian depan terdapat tulisan-tulisan kuno dibagian atas pintu gua. Kemungkinan ini adalah tulisan bahasa karo yang asli karena mirip dengan tulisan arab. Di punggung batu terdapat 2 relief seperti bentuk manusia kecil. Tepatnya disebelah kanan dan bagian belakang batu. Masyarakat setempat meyakini relief ini adalah sosok dari dari Umang tersebut.

Pemerintah Sumatera Utara sudah menetapkan Situs Gua Kemang, sebagai wisata budaya dan sejarah. Sebagaimana yang tertulis di pagar bagian depan ” Situs Gua Kemang (Gua Batu), Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, Proyek Pembinaan Kebudayaan APBD Tingkat I Sumatera Utara”. Dan gua kemang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat, namun juga kebanggaan kita semua sebagai wisata situs sejarah dan budaya yang harus kita lesatarikan.