Satu lagi, tempat wisata yang tak kalah indah dan eksotis dari Danau Toba. Bagi kalian yang sudah pernah nagkring ke Danau toba mungkin akan merasa bahwa Danau Lau Kawar sedikit banyaknya adalah jelmaannya Danau Toba. Tak perlu jauh-jauh bila ingin menikmati indahnya Danau Toba, karena tempat wisata ini layak masuk daftar destinasi traveling anda. Danau Lau Kawar yang letaknya tepat di bawah kaki Gunung Sinabung, Desa Sigarang-Garang Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo. Danau Lau Kawar merupakan sebuah danau yang termasuk kedalam jajaran tempat wisata di Berastagi dan termasuk kedalam salah satu kawasan ekosistem yang dilidungi oleh pemerintah. Jangan lupa untuk datang ke danau ini ketika kita berkujung ke Tanah Karo Sumatera Utara.

Danau Lau Kawar berada pada jarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Berastagi tepatnya berada di desa Kuta Gugung, Simpang Empat, Kabupaten karo. Nah, Untuk menuju danau ini, kita dapat menempuh perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum dari Berastagi dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih untuk sampai kesana. Danau Lau Kawar berada dibawah kaki gunung Sinabung dan dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang mempesona. Pamandangan alam yang asri dan bersih bisa kita dapatkan dan nikmati di danau tersebut. Bagi anda yang menyukai kegiatan Hiking dan berkemah di alam terbuka, dapat menjadikan tempat ini menjadi salah satu tujuan untuk melakukan kegiatan tersebut. Pasalnya danau Lau Kawar merupakan salah satu pintu masuk untuk menuju puncak Gunung Sinabung.

Pada awalnya Danau Law Kawar adalah sebuah pedesaan biasa yang juga mengenakan nama Lau Kawar. Menurut cerita warga sekitar, dahulu ada seorang anak yang disuruh ibunya untuk mengantarkan nasi kepada neneknya yang sedang sakit, namun di tengah perjalanan, nasi dengan daging ayam di dalamnya dimakan oleh si anak tersebut dan tinggallah tulangnya saja. Lalu dibungkusnya kembali dan anak itu kembali berjalan menuju rumah neneknya yang juga sedang menunggu kedatangan anak tersebut. Sesampainya anak itu, nenek membuka bungkusan nasi tersebut ternyata isinya hanya tinggal tulang dan tak ada sisa untuk disantap, Sang nenek pun marah. Dengan kemarahan yang menjadi-jadi, nenek tersebut menangis sejadi-jadinya sembari bersumpah bahwa desa tersebut akan tenggelam. Hingga akhrinya tenggelamlah desa tersebut menjadi sebuah danau, dengan nama Danau Lau Kawar.

Danau Lau Kawar memang tempat yang asri untuk dijadikan tempat perkemahan, tidak kalah jauh dengan perkemahan Sibolangit. Tak salah bila Danau Lau Kawar ini ramai dan padat sekali di kunjungi oleh pecinta alam yang hendak mendaki Gunung Sinabung pada sabtu dan minggu, meski mitos misteri tentang Danau Lau Kawar semakin marak. Danau ini juga cocok dijadikan untuk berpiknik bersama keluarga, karena melihat adanya pepohonan cemara yang berjajar asri, rerumputan yang tumbuh hijau merata. Namun, pengunjung hanya dimayoritasi oleh para remaja, khusunya pecinta alam. Meski Danau Lau Kawar sedikit banyaknya di tumpuki sampah, seperti sampah sisa bungkusan nasi atau makanan ringan dan sebagainya, tidak menghilangkan keeksotisan dalam memikat hati para pengunjungnya di Kota Medan.